Dua tahun lalu, 2013, hidupku pernah
berada di titik nol bahkan minus. Penyebabnya nggak jauh-jauh dari SMA, kelas
XII, UNAS, seleksi masuk kuliah dan (ehem) percintaan. Well, untuk yang
terakhir aku males bahas sih. Ciyeh-_-
Kelas duabelas adalah masa dimana
aku bingung harus fokus kemana. Dengan menikmati masa aktif terakhir sebagai
siswi di SMA, aku gak tau harus enjoy dengan my badass bro sis classmates atau
kill the national exam atau pass the college test. Ketiganya penting mamen.
Keselip dikit aja bisa kepreset jauh. Lalu, aku menemui senior-senior. Karena
mereka adalah orang yang lebih dulu tersesat. Pasti udah punya beberapa
pengalaman untuk dibagikan. Hasilnya tetep abu-abu. Aku pergi ke bimbel dan
konsultasi. Agak mudeng sih, tapi masih belum ketemu benang merah. Oke fine!
Aku nikmati saja.
Dan…kegalauan pun berlanjut.
Hari demi hari kulewati dengan
berangkat pagi pulang sore. Di sekolah, hiburan yang melegakan adalah guyonan
konyol dari temen sekelas, re: MCC+sol, gossipers, dan geng otak pun nimbrung
wkwk. Di rumah, satusatunya hiburan yang menenangkan adalah tidur.
Okeh.
Tes pertama pun kulalui
dengan……..puyeng. STIS. Langsung tebal di babak penyisihan awal. Aku sih
menganggapnya gak jodoh. Selow. Kadar kebahagiaan 80%
Pemilihan jurusan kuliah. SNMPTN.
Akhir-akhir ini aku lebih senang menyebutnya perebutan jurusan kuliah. Di tahap
ini, kesannya kami, calon mahasiswa, kayak teman makan teman. Ada pengalaman
yang lumayan kriminal disini, ngubek-ngubek rapor di TU, MasyaAlloh ide
siapa ini wkwk. Setelah bertindak kepo pada banyak siswa baik satu dan lain
sekolah, ku putuskan untuk memilih Kesehatan masyarakat, teknobiomedik(Unair)
dan Perencanaan wilayah kota, ilmu gizi (UB). Dan hasilnya…..wait. Kadar
kebahagiaan 75%.
UNAS on the go. Di sela-sela mikir
hasil SNMPTN, aku juga mati-matian mempersiapkan UNAS dengan duapuluh paketnya,
tidak termasuk paket hemat. The thing is technically I was ready but mentally
not. It ruined everything I had prepared. Again, ikut bimbel dan private course
sama sekali gak menjamin nilaimu. Aku baru sadar di detik-detik menjelang UNAS,
bahwa aku juga butuh waktu untuk menyendiri memahami apa maunya soal-soal
tersebut. Without using the key, I was happy that I passed. But I think I
failed. I was humiliating myself. I wont go into detail. Kadar
kebahagiaan 48,7%
Beberapa hari setelahnya, pengumuman
SNMPTN. Alloh sedang menempatkan ku di posisi yang teramat sulit untuk ku
pahami. Kubaca pengumuman, sekian detik, otakku masih terus berusaha mencerna
kalimat merah dengan tanda seru di akhir. Lalu pandangan ku abu-abu dan pudar.
Aku tumbang. Aku kalah. Sepersen, aku merasakan sebersit kebahagiaan karena
pingsan ku hanya sementara. Aku masih sangat ingat, bapak dan ibuku terus
menuntunku istighfar. Sulit percaya, karena aku tak bisa lolos.
Beruntunglah, sekian puluh temanku lolos di jurusan pilihan pertama. Kadar
kebahagiaan 1%
Sungguh sulit untuk ikhlas melihat
mereka yang lolos. Normalnya remaja, aku jadi sering menyendiri. Bukan dengan
soal UNAS lagi, SBMPTN yang notabene lebih serem dari UNAS. Di pilihan jurusan
SBM ini, aku masih kekeuh dengan kesehatan masyarakat Unair. Lainnya, orang tua
yang milih.
Ongoing SBMPTN. Sepulang tes dari
Surabaya. Keluargaku kena musibah. Motor kami ilang. Cobaan yang kesekian. Aku
pasrah pada drama Alloh. Selalu ku pegang firmanNya, Al-Insyirah:5-6. Hasil tes
pun di umumkan, Pendidikan Bahasa Inggris - Unesa. Sama sekali bukan pilihanku.
Damn it!!!! Aku nangis sekenceng-kencengnya. Kadar kebahagiaan 2%
Supaya aku gak kuliah di Unesa
(-_-), aku mendaftar di Poltekkes Surabaya. Percaya atau tidak, perjalanan
berangkat tes kesehatan, aku dan bapakku kecelakaan. Lutut ku lecet. Jempol
kiriku "cuwil" separo. Lengan kanan ku berdarah-darah. Setelah di obati,
aku tetap berangkat. Kali ini diantar ibuk dan bapak. Sampai sana. Aku menjadi
peserta terakhir. Sialnya, aku pingsan gara-gara jarum sialan yang ngambil
darahku. Entah aku pingsan karena darahnya atau jarumnya. Walaupun demikian,
aku diterima. Alhamdulillah yah sesuatu. Kadar kebahagiaan 2,1%
Gilanya, aku masih nekat ikut
Mandiri Unair. Kesehatan masyarakat lagi. Semacam…dua penolakan itu masih
kurang cukup untuk membuktikan kalau aku dan unair itu gak jodoh. Syukurlah,
Alloh masih memberi ku kesempatan. Diterima. Akhirnya, tiket masuk Unair
ditangan. Sialnya, si tiket ini harganya fantastis. Keadaan ekonomi orang tua
ku gak cukup untuk memenuhi jalur itu. Aku melewatkan impian terbesar ku
melayang. Kasian deh lu! Kadar kebahagiaan 1,4%
Lalu, aku banting setir ke kedinasan
lagi. STAN. My last hope. Karena kedinasan lain mensyaratkan tinggi badan.
Tahap pertama lolos. Alhamdulillah. Ketemu kenalan yang sekarang jadi temen.
Alhamdulillah. Tapi bapak harus operasi gara-gara kecelakaan yang sama aku
kemaren. Kadar kebahagiaan 20%
The last, tes wawancara STAN. Gal.
Ga. Gal. Runtuhlah semua harapan. #alay Aku rapopo Ya Alloh. Hasil tes ini di
umumkan di sela-sela aku ospek Unesa. Bayangin aja, gimana galaunya gueh. Kadar
kebahagiaan 19%
Sekarang…2015 Aku telah belajar banyak hal. Betapa jika aku
lebih mampu memahami setiap kejadian, aku akan menjadi lebih baik sekarang.
Titik terendahku, aku belajar banyak padamu. Bercermin pada masa lalu yang
menyakitkan, kegagalan, dan kehilangan yang mendewasakan. Terimakasih. Alloh begitu
baik.
Lesson learned;
- Tidak boleh memandang sebuah universitas dengan
sebelah mata. Aku belajar bagaimana menghargai apapun yang aku dapat.
- Tidak boleh gelap mata. Tuhan telah begitu banyak
memberi petunjuk. Terkadang, aku yang terlalu buta tak melihatnya.
- Segalanya butuh uang. Tapi uang bukan segalanya.
- Tidak boleh cepet-cepet pengen mati hanya gara-gara
SNMPTN sialan. Dia bukan satu-satunya pintu menuju masa depan.
- Doa ibu. Ridho orang tua. Kerja keras ku.
- Alloh menjanjikan banyak hal baik untukku.
- Di masa masa ini, aku lebih mengenal siapa yang
sebenar-benarnya teman dan "teman".Cinta pada lawan jenis di
masa remaja memang tiada duanya. Tapi kehancuran karena cinta tersebut
akan lebih meniadakan segalanya.
- The last. Siapa yang tertawa paling akhir, dia yang
akan paling berbahagia. Aku merasakan kejaiban!
- Kadar kebahagiaan 100% :)