Minggu, 18 Januari 2015

Oh SMA-ku. Oh SNMPTN-ku.. Oh SBMPTN-ku... Oh AKU....


Dua tahun lalu, 2013, hidupku pernah berada di titik nol bahkan minus. Penyebabnya nggak jauh-jauh dari SMA, kelas XII, UNAS, seleksi masuk kuliah dan (ehem) percintaan. Well, untuk yang terakhir aku males bahas sih. Ciyeh-_-
Kelas duabelas adalah masa dimana aku bingung harus fokus kemana. Dengan menikmati masa aktif terakhir sebagai siswi di SMA, aku gak tau harus enjoy dengan my badass bro sis classmates atau kill the national exam atau pass the college test. Ketiganya penting mamen. Keselip dikit aja bisa kepreset jauh. Lalu, aku menemui senior-senior. Karena mereka adalah orang yang lebih dulu tersesat. Pasti udah punya beberapa pengalaman untuk dibagikan. Hasilnya tetep abu-abu. Aku pergi ke bimbel dan konsultasi. Agak mudeng sih, tapi masih belum ketemu benang merah. Oke fine! Aku nikmati saja.
Dan…kegalauan pun berlanjut.
Hari demi hari kulewati dengan berangkat pagi pulang sore. Di sekolah, hiburan yang melegakan adalah guyonan konyol dari temen sekelas, re: MCC+sol, gossipers, dan geng otak pun nimbrung wkwk. Di rumah, satusatunya hiburan yang menenangkan adalah tidur.
Okeh.
Tes pertama pun kulalui dengan……..puyeng. STIS. Langsung tebal di babak penyisihan awal. Aku sih menganggapnya gak jodoh. Selow. Kadar kebahagiaan 80%
Pemilihan jurusan kuliah. SNMPTN. Akhir-akhir ini aku lebih senang menyebutnya perebutan jurusan kuliah. Di tahap ini, kesannya kami, calon mahasiswa, kayak teman makan teman. Ada pengalaman yang  lumayan kriminal disini, ngubek-ngubek rapor di TU, MasyaAlloh ide siapa ini wkwk. Setelah bertindak kepo pada banyak siswa baik satu dan lain sekolah, ku putuskan untuk memilih Kesehatan masyarakat, teknobiomedik(Unair) dan Perencanaan wilayah kota, ilmu gizi (UB). Dan hasilnya…..wait. Kadar kebahagiaan 75%.
UNAS on the go. Di sela-sela mikir hasil SNMPTN, aku juga mati-matian mempersiapkan UNAS dengan duapuluh paketnya, tidak termasuk paket hemat. The thing is technically I was ready but mentally not. It ruined everything I had prepared. Again, ikut bimbel dan private course sama sekali gak menjamin nilaimu. Aku baru sadar di detik-detik menjelang UNAS, bahwa aku juga butuh waktu untuk menyendiri memahami apa maunya soal-soal tersebut. Without using the key, I was happy that I passed. But I think I failed. I was humiliating myself. I wont go into detail.  Kadar kebahagiaan 48,7%
Beberapa hari setelahnya, pengumuman SNMPTN. Alloh sedang menempatkan ku di posisi yang teramat sulit untuk ku pahami. Kubaca pengumuman, sekian detik, otakku masih terus berusaha mencerna kalimat merah dengan tanda seru di akhir. Lalu pandangan ku abu-abu dan pudar. Aku tumbang. Aku kalah. Sepersen, aku merasakan sebersit kebahagiaan karena pingsan ku hanya sementara. Aku masih sangat ingat, bapak dan ibuku terus menuntunku istighfar. Sulit percaya, karena aku tak bisa lolos. Beruntunglah, sekian puluh temanku lolos di jurusan pilihan pertama. Kadar kebahagiaan 1%
Sungguh sulit untuk ikhlas melihat mereka yang lolos. Normalnya remaja, aku jadi sering menyendiri. Bukan dengan soal UNAS lagi, SBMPTN yang notabene lebih serem dari UNAS. Di pilihan jurusan SBM ini, aku masih kekeuh dengan kesehatan masyarakat Unair. Lainnya, orang tua yang milih.
Ongoing SBMPTN. Sepulang tes dari Surabaya. Keluargaku kena musibah. Motor kami ilang. Cobaan yang kesekian. Aku pasrah pada drama Alloh. Selalu ku pegang firmanNya, Al-Insyirah:5-6. Hasil tes pun di umumkan, Pendidikan Bahasa Inggris - Unesa. Sama sekali bukan pilihanku. Damn it!!!! Aku nangis sekenceng-kencengnya. Kadar kebahagiaan 2%
Supaya aku gak kuliah di Unesa (-_-), aku mendaftar di Poltekkes Surabaya. Percaya atau tidak, perjalanan berangkat tes kesehatan, aku dan bapakku kecelakaan. Lutut ku lecet. Jempol kiriku "cuwil" separo. Lengan kanan ku berdarah-darah. Setelah di obati, aku tetap berangkat. Kali ini diantar ibuk dan bapak. Sampai sana. Aku menjadi peserta terakhir. Sialnya, aku pingsan gara-gara jarum sialan yang ngambil darahku. Entah aku pingsan karena darahnya atau jarumnya. Walaupun demikian, aku diterima. Alhamdulillah yah sesuatu. Kadar kebahagiaan 2,1%
Gilanya, aku masih nekat ikut Mandiri Unair. Kesehatan masyarakat lagi. Semacam…dua penolakan itu masih kurang cukup untuk membuktikan kalau aku dan unair itu gak jodoh. Syukurlah, Alloh masih memberi ku kesempatan. Diterima. Akhirnya, tiket masuk Unair ditangan. Sialnya, si tiket ini harganya fantastis. Keadaan ekonomi orang tua ku gak cukup untuk memenuhi jalur itu. Aku melewatkan impian terbesar ku melayang. Kasian deh lu! Kadar kebahagiaan 1,4%
Lalu, aku banting setir ke kedinasan lagi. STAN. My last hope. Karena kedinasan lain mensyaratkan tinggi badan. Tahap pertama lolos. Alhamdulillah. Ketemu kenalan yang sekarang jadi temen. Alhamdulillah. Tapi bapak harus operasi gara-gara kecelakaan yang sama aku kemaren. Kadar kebahagiaan 20%
The last, tes wawancara STAN. Gal. Ga. Gal. Runtuhlah semua harapan. #alay Aku rapopo Ya Alloh. Hasil tes ini di umumkan di sela-sela aku ospek Unesa. Bayangin aja, gimana galaunya gueh. Kadar kebahagiaan 19%

Sekarang…2015 Aku telah belajar banyak hal. Betapa jika aku lebih mampu memahami setiap kejadian, aku akan menjadi lebih baik sekarang. Titik terendahku, aku belajar banyak padamu. Bercermin pada masa lalu yang menyakitkan, kegagalan, dan kehilangan yang mendewasakan. Terimakasih. Alloh begitu baik.
Lesson learned;
    1. Tidak boleh memandang sebuah universitas dengan sebelah mata. Aku belajar bagaimana menghargai apapun yang aku dapat.
    2. Tidak boleh gelap mata. Tuhan telah begitu banyak memberi petunjuk. Terkadang, aku yang terlalu buta tak melihatnya.
    3. Segalanya butuh uang. Tapi uang bukan segalanya.
    4. Tidak boleh cepet-cepet pengen mati hanya gara-gara SNMPTN sialan. Dia bukan satu-satunya pintu menuju masa depan.
    5. Doa ibu. Ridho orang tua. Kerja keras ku.
    6. Alloh menjanjikan banyak hal baik untukku.
    7. Di masa masa ini, aku lebih mengenal siapa yang sebenar-benarnya teman dan "teman".Cinta pada lawan jenis di masa remaja memang tiada duanya. Tapi kehancuran karena cinta tersebut akan lebih meniadakan segalanya.
    8. The last. Siapa yang tertawa paling akhir, dia yang akan paling berbahagia. Aku merasakan kejaiban!
    9. Kadar kebahagiaan 100% :)

2 komentar:

  1. Berhenti sejenak dr nyetrika dan baca tuliasan ini . heem dahsyat (y)

    BalasHapus
  2. Wow. Alhamdulillah makasih Iqooh :D

    BalasHapus